if ( function_exists('register_sidebar') ) register_sidebar(array( 'name' => 'Sidebar', 'before_widget' => '
', 'after_widget' => '
', 'before_title' => '

', 'after_title' => '

', )); if ( function_exists('register_sidebar') ) register_sidebar(array( 'name' => 'Blurb', 'before_widget' => '', 'after_widget' => '', 'before_title' => '', 'after_title' => '', )); if ( function_exists('register_sidebar') ) register_sidebar(array( 'name' => 'Top Navigation', 'before_widget' => '', 'after_widget' => '', 'before_title' => '', 'after_title' => '', )); ?>

Proses yang baik akan menghasilkan output yang baik

Posted: April 15th, 2009 | Author: m45kuri | Filed under: Teknologi Informasi | Tags: , , | No Comments »

Ada satu pertanyaan di dalam hati yang selalu menggelitik untuk dijawab. Perkembangan teknologi informasi di dunia “luar” yang begitu melimpah mengapa selalu terlambat diadaptasi oleh dunia pendidikan kita. Dan mohon maaf, ada begitu kesenjangan yang begitu nyata antara sekolah kota dan desa. Melimpahnya opensource dan tool-tool pendidikan hanya dinikmati oleh sebagian sekolah saja yang memang intens mendapat pelatihan (?) dan sekolah yang memang menyadari bahwa TIK merupakan kebutuhan nyata yang harus diadaptasi oleh sekolah.

Beberapa waktu lalu, ada semacam trend bahwa sekolah yang maju dalam TIK adalah sekolah yang mampu menyediakan koneksi Internet untuk siswanya. Maka berlomba-lombalah sekolah mendirikan tower radio sebagai syarat mendapatkan koneksi Internet. Masih ingat betul dalam memori saya, ketika saya mendapat tawaran untuk Internet sekolah yang mencapai Rp 27 Juta dan langganan perbulan Rp 3 Juta. Bagi sekolah pedesaan tempat saya bekerja, nominal itu sungguhlah terasa amat besar dan berat untuk merealisasikannya. Sehingga, saya mengambil inisiatif menggunakan modem dan koneksi dial up untuk mengajarkan kompetensi tentang Internet kepada siswa saya. Dan, karena koneksi yang buruk, cuaca yang tidak menentu, dan kondisi geografis yang tidak mendukung, sering koneksi menjadi sangat lambat dan sering down. Dengan satu komputer, saya mengajarkan kompetensi ini kepada 40 siswa.

Trend sudah berubah. Sekolah yang hanya mementingkan trend dalam penerapan teknologi informasi hanya akan terpaku dan berhenti berkarya setelah Internet hadir. Maka, menurut pendapat saya, aplikasikan teknologi sesuai kebutuhan adalah hal yang amat bijak. Teknologi yang bagus, canggih, ternyata tidak selamanya menjanjikan sebuah keberhasilan institusi. Sebab, aplikasi teknologi informasi di “luar pendidikan” kita, juga dipengaruhi oleh sistem-sistem yang sudah tertata rapi dan sudah berjalan sempurna. Aplikasi teknologi sepotong-sepotong, hanya menghasilkan kemubadziran teknologi. Megah di luar, tapi tidak bermanfaat bagi insititusi.

Merencanakan, mempelajari ilmu dan teknologi baru, mencoba mengaplikasikan adalah kegiatan positif yang seharusnya menjadi budaya sekolah dalam menerima dan mengadaptasi teknologi. Internet menjadi sebuah media riset dan alat untuk memperkaya imajinasi warga sekolah untuk terus berkarya. Sayangnya, tidak banyak orang yang mau untuk meluangkan waktu dengan belajar lagi, mencoba, dan berkarya demi menghasilkan sesuatu yang berguna bagi perkembangan dunia pendidikan di masa yang akan datang. Karena pada pada dasarnya, belajar, belajar, belajar adalah “etos” yang tidak pernah kita kembangkan.

Proses yang baik akan menghasilkan output yang baik. Proses hanya dapat dicapai dengan berani belajar dan mencoba aplikasi teknologi terbaru untuk diterapkan di sekolah. Semakin panjang proses yang dijalani, akan semakin baik hasil yang akan dicapai. Karena, di dalam proses itulah akan ditemukan berjuta-juta pengalaman yang tidak akan pernah di dapatkan “di bangku” kuliah sekalipun. Mari berkarya.



Leave a Reply